Senam, senam apa yang paling berat? Kalo gak bisa ngelakuinnya bisa SEKARAT, kalo bisa ngelewatinnya berarti kamu HEBAT. Haha..lucu juga ya sebutan buat tes satu ini? Dari mulai proyek perintis, sipenmaru, umpetan (UMPTN), SPMB sampe akhirnya SeNaM-PTN. Wuih, banyak juga tuh! Belum lagi ditambah ujian masuk tiap universitas negeri maupun swasta di Indonesia. Walhasil, kalo kamu merasa gak yakin bisa gol di SNMPTN berarti kamu harus ikut seleksi yang diadain universitas yang kamu tuju. Syukur – syukur kalo masih ada. Nah kalo ga ada lagi gimana donk? Khan masih ada SNMPTN. Kemungkinannya makin kecil donk kak! Eits.. kalo kamu belajar dengan serius gak ada yang gak mungkin lho. Tanpa memandang kamu anak pinter atau bukan, apapun warna bulu kamu gak akan ada yang peduli (lho?). Intinya kalo mau sukses ya belajar dari sekarang. Bukan maen PS ato malah nongkrong di warung es. Ok frens? 

Sepenggal Kisah by Fredy Ferdinand Carol*
Baiklah pembaca yang budiman dan budiwati, terlebih dulu saya akan menceritakan tentang kehidupan saya. Saya lahir dari keluarga yang sederhana, tapi memiliki orang tua yang sungguh luar biasa, Super Parents istilahnya, bisa dibilang begitu karena menurut saya mereka memang Super. Mungkin ada diantara kalian yang bertanya, “Ooh, Jadi anda ini anak dari hasil pernikahan antara Superman dan Supergirl??” Hmm, kayaknya yang nanya begini terlalu banyak nonton kartun deh, hehe..
Menurut cerita ibu saya, dulu saat awal pernikahan mereka, keadaan keluarga masih dalam keadaan susah, kami “hanya” sanggup mengontrak rumah semi permanen di daerah Kalianda, Lampung Selatan. Kami tinggal selama empat tahun disana. Tapi saya belum lahir, jadi gak ngerasain susahnya, hanya lewat cerita aja, hehe. Jika diingat lagi masa-masa itu, mereka mungkin gak akan menyangka sanggup menyekolahkan semua anaknya hingga menjadi Dokter. Tapi karena kegigihan dan kerja keras dengan membanting tulang demi keluarga serta ketekunan dalam mendidik anak-anaknya maka kami bisa seperti saat ini. Apa?? Bukaaann, orang tua saya bukan tukang jual daging, haduuh kalian ini. Hihihi
Tapi di balik itu semua, sebenarnya pertolongan Tuhan YME lah yang sebenar-benarnya menjadi penolong keluarga kami. Mereka tak pernah berhenti berdoa kepada Allah SWT agar keluarga kami diberi kelancaran, kemudahan dan pertolongan dalam keadaan-keadaan sulit. Tekanan financial mulai mencapai puncaknya saat kami, anak -anaknya secara bersamaan sedang menimba Ilmu Kedokteran di tiga tempat yang berbeda, yang saat itu sudah terkenal mahal biayanya. Ini sama saja dengan menghidupi empat rumah sekaligus secara bersamaan dengan kepentingannya masing -masing yang beragam. Namun, setiap dalam keadaan terhimpit ternyata selalu saja ada pertolongan yang datang untuk keluarga kami. Maka hingga saat inipun mereka tak pernah berhenti berdoa dan bersyukur atas limpahan rahmatNya kepada keluarga kami. Pesan saya untuk kalian adalah selalu ada jalan jika kita percaya pada kekuatanNya. Karena Ia lah sebaik baik Penolong, maka berdoalah mulai dari sekarang wahai anak Adam. InsyaAllah di ijabah olehNya.

Sadar dan tentukan pilihanmu dari sekarang!
Sebenarnya kisah saya ini bukan untuk dijadikan panutan, apalagi teladan, tapi seperti yang saya sebut sebelumnya, lebih baik jika dijadikan pelajaran. Sehingga yang akan saya sampaikan disini mungkin adalah berupa pengalaman saya dan apa yang menurut saya sebaiknya kalian lakukan pada saat itu. Selain untuk mengingatkan diri saya sendiri, selain itu jg bisa menjadi pelajaran bagi kalian agar tidak terjatuh ke dalam lubang yang sama, tapi seenggaknya ke lobang yang laen. Sorry cuma becanda, Hehe
Selama tahun – tahun awal masa SMA, mungkin sama seperti kebanyakan anak – anak yang lain, saya tidak pernah benar-benar serius dalam belajar. Menurut saya, mungkin karena saat itu kami belum sadar bahwa setelah SMA akan ada “lompatan” cukup besar di dalam hidup kami. Lompatan kali ini tidak sama dengan lompatan saat kita lulus SD kemudian masuk SMP. Lompatan kali ini lebih besar dari biasanya, lompatan yang mungkin akan menentukan masa depan kita nantinya. Lompatan itu berupa keputusan atas apa yang akan saya ambil saat lulus SMA, menentukan jurusan di tingkat universitas. Salah satu pilihannya adalah dengan mengikuti SPMB. Bagi kalian yang saat ini belum memasuki masa-masa kelas III SMA, jangan tiru kebiasaan kami yang gak serius tadi, ibarat kata nih, “Do NOT try this at Home!!. Seriuss!!
Kalian harus mulai memikirkannya dari SEKARANG, iya sekarang! Tapi nanti dulu deh, setelah baca cerita saya yah, hehe. Jadi hal pertama kali yang harus kalian lakukan yaitu SADAR bahwa kalian sedang menghadapi lompatan yang sama sekali berbeda dari sebelumya, lompatan yang mungkin bisa menentukan masa depan kalian. Setelah itu tentukan pilihanmu. Pilihan tersebut harus tinggi, bahkan boleh seperti mimpi. Gak apa walaupun hanya seperti mimpi, asal saat kalian “terbangun”, mulailah bangkit dan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mewujudkannya. 
“Masa depan tergantung pada keputusan apa yang kalian ambil pada saat ini”

Target dan tujuan
Mungkin beberapa diantara kalian akan bertanya, “Trus, kami yang sudah masuk kelas III SMA, sudah telat dong untuk belajar serius?” Jangan kecewa cuuyy, saya termasuk anak SMA yang dulunya suka gak serius dalam hal belajar. Tapi saya berhasil meraih apa yang saya inginkan. Mau tau rahasianya?? Baca terus yaah .
Sebelum saya kelas III saya belum terfikir sedikitpun pilihan mana yang akan saya ambil setelah lulus SMA nanti, entah itu ikut SPMB dan menjadi mahasiswa abadi, ikut seleksi STPDN dan rela jadi samsak, kuliah di STAN dan mengikuti jejak Gayus, atau masuk Akpol sama seperti tetangga sebelah. Saya jadi teringat lagunya Armada, mau dibawa kemana cerita kitaa, hehe. Dikarenakan terlalu banyak santai, akhirnya saya terlena, ku terleenaaa.. keluar deh lagunya Ike Nurjanah, hehe..
Sampai saat masuk ke kelas III SMA baru hal itu mulai terpikir oleh saya, itupun bukan serta – merta inisiatif otak saya yang mau berfikir, hadeeuuhh. Tapi karena orang tua yang bertanya kepada saya, “Nak, nanti waktu masuk SPMB kamu mau ambil Fakultas apa, terus PTN mana??” JLEB!!.. Bagai ada sesuatu yang menyadarkan saya kalau lompatan besar itu sudah menanti di depan mata.
Semakin hari saya pikir, semakin hari saya menemui ketidak pastian. Istilahnya itu Galau Maksimal. Bahkan saat saya diberi kebebasan untuk memilih, saya tetap tidak tahu jurusan apa yang saya inginkan, benar – benar labil. Mengetahui hal ini orang tua saya sadar bahwa anak seperti saya sebaiknya dibimbing bukan digotong, hehe. Bisa dilihat peran besar orang tua saya dalam membimbing anaknya, benar-benar Super, I love them so Much . Akhirnya dengan mantap mereka menyarankan saya untuk masuk Fakultas Kedokteran, sama seperi kedua kakak saya yang otaknya pada brillian.
Jreng jreeeng!!
Dalem hati saya “Masya Allaah, ampunilah Baim ya Allaah..” Maklum, harapan ini lumayan besar untuk saya yang pinternya nanggung. Hihihi..
Menjadi dokter bukanlah hal yang ada dibenak saya, bukan karena profesi ini tidak bagus untuk masa depan saya, tapi karena saya belum yakin menjadi seorang dokter adalah yang mampu saya capai, dan karena saya tahu untuk masuk FK itu susah – susah gampang. Bagi saya tingkat kesulitannya sama seperti maen layangan (maklum saya jarang bisa naikin layangan sampe tinggi, hehe..) Akan tetapi justru karena saya dibebankan TARGET seperti inilah maka saya untuk pertama kalinya mempunyai TUJUAN dalam salah satu fase hidup saya. Karena saya sudah menetapkan tujuan saya, maka pola belajar saya sesuaikan agar dapat lulus di Fakultas Kedokteran, menjadi lebih terarah dan terorganisasi dengan baik, Ceilleeeh . Jadi, berdasar pengalaman saya agar sukses setelah lulus SMA, hal kedua yang kalian perlukan adalah TARGET atau TUJUAN. Karena kalau kita gak punya TARGET, maka aktivitas belajar yang kita lakukan tak akan punya arah dan takkan mungkin bisa maksimal.
Nah, untuk mencapai target, saya belajar jauh lebih giat dan mengikuti ujian Try Out di berbagai bimbel untuk mengevaluasi sejauh mana kemampuan saya. Inget ya, waktu Try Out jangan pernah sekali – kali kamu nyontek. Rugi jek! Udah bayar mahal – mahal tapi kita gak tahu seberapa kemampuan kita, bener gak?? Lagian, waktu SPMB gak akan mungkin bisa nyontek.
Fakultas pilihan pertama yang saya ambil setiap Try Out itu selalu FK, gak peduli itu FK di PTN mana yang penting FK!! Maksa banget emang. Tapi menurut saya memang sebaiknya seperti itu, karena saya sudah memiliki target, maka tujuan saya adalah mencapai target dengan patokan seperti itu. Sedangkan pilihan kedua saya pilih fakultas yang hampir pasti bisa saya raih (yang ini tips dari guru bimbel saya). Alasannya yang penting kita bisa lulus dulu di SPMB awal, walaupun mungkin tahun depan kita mencoba lagi mengambil fakultas yang kita inginkan itu gak masalah, yang penting kita sudah punya ‘pegangan’. Jadi walaupun kita gak lulus lagi tahun depannya, toh kita memang sudah masuk kuliah meskipun itu pilihan kedua kita, bener gak?? Bukan apa-apa, menganggur itu rasanya Pedihh Jendral!! Sama rasanya kayak ngejomblo, hehe 

Percepatan
Jujur punya jujur, semua Try Out yang saya ambil seinget saya baru sekali saya lulus di FK, itupun di akhir akhir menjelang akan dimulainya SPMB dan juga dari PTN dengan passing grade yang terkecil di antara FK yang lain. Tapi gak apa, toh ternyata saya sudah layak masuk FK, dan hal ini yang jadi pemicu saya untuk belajar lebih giat lagi dari sebelumnya. Jadi pada waktu yang sudah mepet tadi, apa yang saya lakukan adalah sederhana, tapi menurut saya cukup jitu. Jadi setiap saya tidak lulus Try Out, saya selalu melakukan evaluasi soal baik sendiri ataupun dengan guru bimbel, karena soal – soal SPMB seringkali mengulang dari tahun-tahun sebelumnya.
Apa yang saya lakukan kemudian adalah lebih meningkatkan kemampuan belajar saya dari sebelumnya. Kemampuan belajar ini selalu saya coba tingkatkan setiap saya tidak lulus Try Out, dari yang sebelumnya hanya 10 jam/hari meningkat jadi 12 jam/hari, kemudian dari 12 jam/hari menjadi 16 jam/hari, demikian seterusnya semakin meningkat. Sehingga pada saat menjelang SPMB, tiada hari tanpa belajar, makan sambil belajar, naek angkot sambil belajar, bahkan masuk WC aja terkadang sambil belajar, CUEKK!! Inilah salah satu rahasia saya mempersiapkan diri menjelang SPMB dengan waktu yang sudah sangat mepet tadi, yaitu PERCEPATAN dalam belajar.
Kenapa kok percepatan?? Karena saya belum tahu belajar yang maksimal itu seperti apa. Jadi disaat kita berfikir belajar kita sudah maksimal, tapi ternyata setelah diuji dengan Try Out kemudian ternyata masih belum lulus juga, itu artinya usaha yang kita lakukan belum cukup. Jadi harus kita tingkatkan lagi dari sebelumnya ke level maksimal selanjutnya.

Semangat pantang menyerah
Jujur, seumur hidup saya gak pernah sekalipun rangking satu! Prestasi tertinggi saya “hanya” berhasil rangking dua, itu saat kelas II SMP, itupun di kelas unggulan ke 2 di sekolah. Orang yang rangking satu di kelas saya waktu itu perempuan, namanya Evi, dia gak pernah ngasih kesempatan sama saya untuk dapet rangking 1, kalo ada dia disini, yang mau saya bilang ke dia ini.. “Vi, elo gue END!” Hehe.. Meskipun saya gak pernah rangking satu, hal ini gak membuat saya patah semangat untuk masuk ke fakultas yang saya inginkan. Salah satu yang betul – betul kalian perlukan saat menghadapi SPMB adalah SEMANGAT. Karena kalianlah yang akan menentukan masa depan kalian, takdirmu berada di tanganmu sendiri Jendral!
Percepatan yang saya sebutkan tadi gak akan bisa kalian lakukan tanpa adanya SEMANGAT. Saya bersyukur karena saat itu saya mendapatkan motivasi yang bertubi – tubi dari segala arah, kayak pukulan kombinasi di dalam olahraga tinju; Jab, straight, hook, upper cut, tapi gak pake gigit kuping, hehe.. Saya sungguh ingin mengucapkan rasa terimakasih yang sebesar – besarnya pada guru-guru saya di SMA Al Kautsar yang sangat peduli dengan murid – muridnya, gak hanya membantu dalam hal akademis dan support berupa motivasi tapi kami juga dibimbing secara spiritual, disinilah kelebihan Al Kautsar dibanding sekolah-sekolah lain, makanya kalau mau sukses dunia akherat, masuk ke Al Kautsar dong. Lumayan, promosi lagi, hehe..
Selain itu guru – guru bimbel saya juga gak kalah jago dalam memberikan motivasi. Walaupun agama mereka banyak yang tidak seiman dengan saya, akan tetapi dalam hal memotivasi murid – muridnya mereka gak pandang bulu. Rata – rata yang ngajar itu orang Batak, kami memanggil pengajar disitu dengan panggilan “Abang” untuk laki – laki dan “Kakak” atau “Mbak” untuk perempuan kemudian mereka memanggil kami semua dengan sebutan “Adik” jadi rasa persaudaraannya lebih terasa, kami merasa lebih dekat dengan mereka dan gak segan-segan untuk bertanya bahkan curhat, hehe..
Jika ditanya bagaimana saya bisa begitu bersemangat dalam belajar, itu karena sumber utama semangat saya adalah kata-kata orang tua saya saat mereka mengatakan alasan mengapa menginginkan saya menjadi seorang dokter. Saat saya sedang belajar dengan santai, ibu saya mendekat dan menasehati saya,
“Nak, mama mau kasih pengertian sama kamu.” Saya mengangguk.
“Nak kamu itu satu satunya anak laki-laki di keluarga ini, harapan keluarga ini ada di tangan kamu. Kalau kamu nanti gak jadi orang, nanti kayak mana dengan Mama sama Papa??”
“Makanya kami pengen kamu itu jadi Dokter, karena kamu itu harapan keluarga, mulai dari sekarang belajar yang rajin, jangan males-malesan ya.”
Permintaan tulus dari orang tua untuk anaknya, padahal selama ini mereka hampir gak pernah meminta apapun dari saya, tapi kali ini mereka meminta demi masa depan anaknya. Dari sinilah semangat menggebu-gebu itu datang, menyala-nyala bagaikan api abadi, membakar semua rintangan apapun yang ada di hadapannya, bahkan semakin besar rintangan menghadang maka makin besar pulalah api itu.
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa yang pada diri mereka ”.

Jangan pernah menyerah dan yakinlah!
Sebelum ujian SPMB dimulai, Universitas Gadjah Mada mengadakan seleksi UM UGM (Ujian Masuk Universitas Gadjah Mada) yang pertama di tahun 2003. Karena kakak saya yang kedua kuliah di UGM, maka orang tua menyarankan saya supaya ikut seleksi, selain memang UGM merupakan universitas favorit tetapi juga bisa mengurangi biaya kost dengan tinggal satu kost – an dengan kakak di Yogyakarta. Saya pun mendaftar, fakultas pilihan pertama yang dituju jelas fakultas kedokteran, sedangkan untuk pilihan kedua saya ambil jurusan yang grade – nya juga cukup tinggi, bahkan hampir setinggi passing grade FK. Orang tua sangat berharap agar saya dapat lulus di UGM. Lama menunggu pengumuman UM UGM terasa seperti bertahun – tahun. Akhirnya pengumuman itu tiba juga, ibu mendapat telpon dari kakak saya yang kuliah di UGM, saat itu saya sedang makan pagi. Jantung berdebar kencang, keringat mengucur deras, pengen buang angin tapi saya tahan, hehe.. Saya tahu betul kakak saya menelpon pasti mau mangebarkan hasil UM UGM, tapi pertanyaannya, “Apakah saya LULUSS?? Setelah menunggu beberapa lama, orang tua mengabari saya bahwa saya TIDAK LULUS. Tiba – tiba saya muntah. Ibu saya yang emang rada cerewet setengah berteriak, “Dii, kamu denger gak?? Kamu GAK LULUUSS!!” Saya muntah lagi, lebih banyak malah.
“Kegagalan adalah hanya kesuksesan yang tertunda”
Kekecewaan karena gagal di UM UGM tidak mematahkan semangat saya. Seperti yang saya bilang, semakin besar rintangannya maka “api semangat” yang ada dalam diri saya justru semakin besar. Ayah saya yang rajin shalat Istikharah, menyarankan saya tetap mengambil FK, kali ini dia meminta saya mendaftar ke FK Universitas Sriwijaya Palembang. Alasannya adalah karena ia bermimpi Dokter Keluarga alumni dari FK Unsri berkunjung ke rumah dan mencuci kakinya di kolam rumah kami. Mimpi ini terjadi sebanyak tiga kali hingga ia benar – benar yakin dengan pilihannya untuk saya. Mungkin ini yang membuat saya YAKIN bahwa saya mampu lulus di FK Unsri. Apalagi nilai Try Out terakhir saya hampir mendekati passing grade FK Unsri. Jadi saya tinggal melakukan PERCEPATAN belajar sedikit lagi untuk mencapai apa yang saya inginkan, lulus di FK Unsri.
Saya semakin menggila belajar, jika tadi di WC saya juga tetap belajar, sekarang dalam mimpipun saya mimpi sedang belajar. Memang tidak ada cara lain, HARUS BELAJAR! Kali ini gak boleh ada kata gagal, janji saya dalam hati, karena saya YAKIN. Ini modal berikutnya untuk lulus di SPMB, YAKIN. Yakin kalau kita berusaha dengan sungguh sungguh maka kita bisa mendapatkan apa yang kita inginkan.
Saat Thomas Alfa Edison berhasil menemukan lampu yang pertama kalinya dengan menggunakan listrik, Koran setempat menulis “Setelah gagal dalam membuat lampu sebanyak lebih dari 9000 buah, akhirnya Thomas Alfa Edison berhasil membuat lampu listrik yang menyala”. Akan tetapi Thomas meminta Koran tersebut meralat dan mengganti judulnya seperti ini “Setelah berhasil membuat lampu yang belum mampu menyala sebanyak lebih dari 9000, Thomas Alfa Edison akhirnya mampu membuat lampu yang benar-benar bisa menyala”. Keyakinan Thomas Alfa Edison bahwa apa yang dia lakukan bukanlah sebuah kegagalan, akan tetapi sebuah proses menuju kesuksesan membuatnya YAKIN dan terus SEMANGAT bahwa ia mampu membuat lampu listrik yang pertama kali.
“Manusia adalah apa yang di fikirkannya, jika dia yakin dia bisa, maka dia bisa”

Doa
Jangan pernah meremehkan sebuah doa. Doa yang dipanjatkan dengan penuh keikhlasan akan sangat mempengaruhi hasil akhir. Salah satu doa yang didengar oleh Tuhan adalah doa yang dipanjatkan dengan ikhlas oleh orang tua untuk kesuksesan anaknya. Percaya deh, kalau ada doa orang tua yang menyertai perjuangan kita, maka kita akan merasakan dorongan yang luar biasa untuk terus berusaha. Dengan doa dari mereka semangat dan rasa yakin akan terus tumbuh di dalam diri kita. Sehari sebelum ujian SPMB, bimbingan belajar tempat saya belajar mengundang semua wali murid untuk bersama – sama mendoakan anak – anaknya yang besok akan berjuang (tentu saja doanya sesuai dengan agama dan kepercayaan masing – masing). Kemudian ada juga acara terimakasih dari anak kepada orang tuanya yang telah mendoakan mereka. Kami masing – masing diberikan bunga oleh panitia bimbel, yang kemudian bunga tersebut diberikan kepada orang tua kami masing – masing dengan diiringi oleh ucapan rasa terimakasih dari kami kepada orang tua.
Benar – benar acara itu sangat mempengaruhi semangat dan keyakinan kami bahwa besok saat ujian SPMB kami akan meraih kesuksesan. Abang pembimbing kami kemudian memberi suntikan semangat kepada kami dengan suaranya yang lantang. Kira – kira begini kata – katanya (jelas dengan logat Batak, hehe..), “Ingatlah adik-adik, jika dari 1000.000 orang yang ikut SPMB itu hanya 10.000 yang lulus, maka diantaranya haruslah kalian!!”
“Jika dari 1000.000 orang yang ikut SPMB itu hanya 100 yang lulus maka diantaranya juga haruslah kalian!!
“Bahkan jika di Fakultas tersebut hanya menerima satu mahasiswa saja, maka orang tersebut haruslah kalian!!”
Benar-benar membakar semangat tempur.
” Berdoalah kepada-Ku niscaya Aku ijabahi”
*Fredy Ferdinand Carol adalah seorang dokter yang ditugaskan di Pesawaran, Lampung. Menempuh studi di fakultas kedokteran Universitas Sriwijaya, Palembang.(fb : Fredy Carol)

Ok, frens. Sekarang giliran kamu ber – ekspresi menunjukkan ke semua sahabat apa yang sudah kamu lakukan saat kamu begitu menginginkan kuliah di universitas idaman kamu. Hal terpenting disini adalah kamu bisa menceritakan perjuangan kamu dan kamu harus punya suatu talent yang kamu asah selama kamu kuliah. Jadi kisahnya gak sekedar dunia kuliah ya. 
Ini dia syaratnya:
1. Panjang tulisan minimal 5 halaman kertas ukuran A4, font Arial 11, spasi 1,5.
2. Tulisan dikirim ke asya.nura@gmail.com atau asiyah1011@yahoo.com paling lambat 27 Desember 2011.
3. Temen – temen harus sudah melalui yang namanya SeNaM – PTN, SPMB, Proyek Perintis, SIPENMARU atau ujian masuk universitas apapun baik di Indonesia maupun Negara lainnya.
4. Kalo masih kuliah, kalian harus menuliskan aktivitas kalian diluar kuliah, jadi temen – temen yang mau kuliah pun bisa berpikir bagaimana untuk mempunyai aktivitas diluar jam kuliah. Syukur – syukur yang menghasilkan. Amin.
5. Sertakan keterangan diri: nama, tanggal lahir, pendidikan (nama kampus), dan aktivitas sehari – hari atau pekerjaan juga akun facebook dan twitter.

Semua naskah akan diseleksi oleh saya dan teman – teman sesama penulis yang ada di UI, UGM, Universitas Lampung juga UNSRI. Kemudian naskah yang telah dibukukan akan kami publikasikan melalui NULISBUKU.COM dan tidak didapatkan di toko buku manapun. Sebagian hasil penjualan akan disalurkan kepada teman – teman yang kurang mampu untuk membiayai tes masuk perguruan tinggi.
Insyaallah, jika proyek bersama kita ini lancar dan berkah, teman – teman akan mendapat buku sebagai imbalan karena telah memberi kontribusi untuk seluruh anak Indonesia.
Ayo MEMBANGUN INDONESIA dengan apapun yang kita miliki saat ini.
Merdeka!

Tertanda

Asya Nura (@yuyut_kandis)

Iklan